Children Learn What They Live

Oleh: Pdt. Leonard Andrew Immanuel, S.Si. - pendeta GKI Sidoarjo

Jika anak dibesarkan dengan kejujuran, mereka belajar berkata dan berbuat benar
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, dia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, dia pun belajar bahwa dunia adalah tempat yang baik untuk didiami
- Dorothy Law Nolte

Malam itu, Nike mengirim pesan pendek. Besok, ia akan menempuh ujian nasional. Ia meminta saya mendoakannya. Saya membalas, "Iya, Nike, saya berdoa agar kamu sehat, dan dapat mengerjakan soal-soal itu dengan baik. Kerjakan dengan jujur, ya!". Tetapi tak lama kemudian, Nike, yang duduk di kelas enam SD, mengirim pesan kedua. Isinya membuat saya pedih dan prihatin pada kondisi dunia pendidikan kita. Dia menulis, "Tapi, Pak Leo, Pak Guru minta saya untuk ngasih contekan ke teman-teman. Saya sebenernya nggak mau, khan itu nggak jujur? Tapi, saya takut dimarahin sama Pak Guru".

Lama, saya tercenung membaca pesan Nike. Saya sudah lama mendengar dari berbagai pihak, baik anggota jemaat saya sendiri maupun tetangga, tentang praktik-praktik lancung yang justru dipromosikan oleh para pendidik: bahwa mereka tega mengacaukan orientasi dan konsepsi moral anak didiknya dan membuat mereka sesat memahami perbedaan kategoris itu; bahwa mereka memakai prestasi anak-anak dan kelulusan mereka untuk bahan iklan menjelang awal tahun ajaran baru entah sebagai sekolah favorit atau sekolah berprestasi dengan tingkat kelulusan 100%. Saya sudah lama tahu tentang praktik korupsi pikiran dan manipulasi atas anak-anak ini. Mereka yang berwawasan luas dapat menghubungkan gejala ini hingga pada debat tentang perlu-tidaknya ujian nasional. Tetapi baru kali ini, saya mengetahui masalah ini langsung dari anak-anak, seperti Nike, yang ditempatkan dalam situasi itu.

Nike tidak sendirian. Di kemudian hari, saya mendengar kesaksian-kesaksian yang sama dari anak-anak yang lain. Saya segera teringat kepada respons Tuhan Yesus terhadap orang-orang yang menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil. Menurut-Nya, yang terbaik untuk mereka terima adalah sebuah batu kilangan yang terikat pada leher mereka, dan dibuang ke dasar lautan.

Saya masih optimis terhadap masa depan pendidikan nasional. Ada banyak alasan untuk berpengharapan. Anak-anak kita makin menjadi subyek pendidikan: pendapat mereka didengar, dan ada banyak forum intra maupun ekstrakurikuler dibuka agar siswa berkembang maksimal. Siswa bereksperimen dalam berbagai situasi hidup, dan kurikulum makin berfokus pada basic life skills. Kecerdasan pun dimaknai secara multidimensional.

Tetapi, pada saat yang bersamaan, kita tidak dapat menghindar dari pertanyaan bagaimana kita dapat membantu anak-anak ini dari praktik-praktik buruk yang justru mereka jumpai di pusat-pusat pendidikan formal. Apakah dengan memboikot sekolah dan melarang anak-anak belajar di sana? Tentu tidak begitu! Masih banyak pendidik yang berhati mulia dan bermartabat, yang mencintai anak-anak dan setia pada filsafat serta praktik pendidikan, yang mau mencerdaskan kehidupan bangsa dengan menumbuhkan semangat hidup berintegritas.

Saya tidak menyangkal bahwa ada begitu banyak pekerjaan pendidikan yang masih berharga untuk dilakukan oleh pihak sekolah. Itu terjadi karena sekolah pun berkembang makin kompleks untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dan tuntutan dunia kerja. Namun, kasus yang diangkat oleh Nike justru menyadarkan kita bahwa pendidikan ternyata terlalu penting jika hanya diurusi oleh sekolah saja. Berbicara tentang pendidikan memaksa kita untuk menyadari bahwa pendidikan itu sendiri sesungguhnya lebih besar daripada apa yang dapat diberikan oleh sekolah. Sekolah tidak selalu berhasil untuk setia pada misi pendidikan, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Bahkan, pada hakikatnya, sekolah bukanlah pendidik utama bagi anak-anak kita.

Adalah kita, para orang tua, yang merupakan pendidik pertama dan utama bagi anak-anak. Kitalah yang mengajar mereka kata pertama dalam bahasa kita kepada mereka. Kitalah yang memberi mereka dasar-dasar komunikasi: membangun sikap dasar tubuh, gesture, dan cara berpikir. Kita juga yang mengajak mereka untuk mengenal Tuhan dan memanggil nama-Nya dalam doa-doa harian. Namun sayang, kita telah lama menelantarkan tugas tersebut. Kita tidak menyadari bahwa mendidik justru adalah isi terpenting dari tugas parenting! Penelantaran ini sebagian karena kita merasa telah membayar mahal atas biaya sekolah anak-anak, dan sebagian yang lain karena tidak punya waktu untuk mendidik dan mengajari mereka. Maka, tugas tersebut seolah-olah diserahkan kepada sekolah dan lembaga-lembaga bimbingan belajar.

Hal yang sebenarnya terjadi adalah bahwa kita, para orang tua, meminta negara dan/atau masyarakat untuk membantu kita menyelenggarakan tugas pendidikan tersebut sebab tugas itu terlalu besar untuk kita kerjakan sendiri. Ada terlalu banyak materi pengajaran sebagai konsekuensi dari perkembangan ilmu pengetahuan. Kita tidak mungkin dapat mengikuti perkembangan tersebut. Di sinilah, lembaga pendidikan milik negara atau masyarakat mengambil fungsi strategisnya sebagai lembaga yang menyediakan pendidikan berkelanjutan dan menjanjikan modal nilai kompetensi bagi masa depan anak-anak ketika mereka masuk dalam dunia kerja yang kian kompetitif. Tetapi, itu tidak berarti bahwa fungsi pendidikan absen dalam tugas parenting. Maka, orang tua masa kini harus mendidik anak-anaknya dalam dimensi-dimensi yang tidak dapat dijangkau oleh lembaga-lembaga pendidikan itu. Pertanyaan penting: dimensi-dimensi apakah yang tidak dapat selalu dijangkau lembaga pendidikan namun justru mengandaikan berfungsinya tugas parenting orang tua? Saya rasa di sinilah Dorothy Law Nolte membantu kita.

Nolte adalah seorang guru yang peduli pada pendidikan bagi anak dalam keluarga. Ia terkenal di seluruh dunia berkat puisinya, "Children Learn What They Live", yang ditulisnya pada tahun 1954. Puisi ini telah diterjemahkan ke dalam lebih dari dua puluh bahasa dalam pelbagai versi (puisi yang tertera di awal tulisan ini adalah terjemahan dari versi pendeknya), dan dipakai sebagai pedoman yang kuat untuk mengerti inti pendidikan.

Sesungguhnya, pendidikan adalah soal memberikan kepada anak-anak dasar dan alasan untuk belajar membangun dan meniru, bisa yang baik atau yang buruk, dari apa yang mereka terima melalui sumber-sumber otoritas seperti orang tua, masyarakat, dan lembaga pendidikan. Nolte percaya bahwa pola asuh orang tua sangat penting. Dan, teladan orang tua adalah keharusan bagi pertumbuhan menuju kedewasaan. Tidak masuk akal mengharapkan seorang anak menjadi pribadi penyayang bila ia sendiri kerap mengalami penolakan dari orang tua yang membesarkannya.

Orang tua bertugas untuk membangun karakter anak melalui relasi yang kuat dengan mereka. Bila relasi itu buruk, anak akan tumbuh sebagai pribadi yang buruk. Nolte menulis :

Jika anak dibesarkan dengan celaan, dia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan/kekerasan, dia belajar membenci
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, dia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan hinaan, dia belajar menyesali diri

Nolte berpendapat bahwa anak menjadi pelaku kekerasan justru karena ia sebelumnya adalah korban kekerasan. Sumber-sumber otoritas menjadikan sang anak sebagai alamat dari celaan, sikap bermusuhan, cemooh, dan penghinaan. Semua ini adalah bahan bagi kebiasaan buruk sang anak di kemudian hari. Ia akan menuai kebiasaan untuk memaki dan membenci orang lain atau minder dan kecewa pada diri sendiri. Dan, sebaliknya, jika orang tua memberi iklim bertumbuh yang positif kepada sang anak, rangsangan dan kumpulan pengalaman positif itu pun menciptakan formasi psikis yang positif pula bagi sang anak. Lewat puisinya, Nolte mengatakan :

Jika anak dibesarkan dengan dorongan, dia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, dia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, dia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, dia belajar mengasihi
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, dia belajar menyenangi dirinya

Pengalaman positif merupakan inspirasi yang paling kuat dan teladan yang paling menghidupkan bagi sang anak. Anak yang mendapatkan pengalaman positif tidak memiliki alasan untuk berkembang ke arah negatif. Ia akan menciptakan ulang kebaikan dari pengalaman positif itu bagi orang lain karena selain ia telah menikmati kebaikan-kebaikan tersebut, ia juga masih menginginkannya di masa depannya. Orang lain yang akan melestarikan kelangsungan pengalaman positif itu. Maka, di sini, kita melihat adanya lingkaran kebaikan.

Nolte rupanya melihat anak-anak seperti spons yang reseptif, (puisi yang tertera di awal tulisan ini adalah terjemahan dari versi pendeknya) bahan yang dengan mudah menye-rap dan mengeluarkan materi psikis yang sama dengan yang mereka terima. Padahal, tentu saja, perkem-bangan anak tidak hitam putih dan positivistik seperti ini. Perkembangan anak sesungguhnya amat rumit dan berkelindan (bergerak dan jalin menjalin, Red.) di antara faktor pola-pola pengasuhan keluarga dan masyarakat, materi dan metode pengajaran, sosialisasi nilai dan kolektivitas pengalaman serta kema-jemukan pemaknaan atas penga-laman hidup itu.

Pada baris-baris pengalaman negatif di atas, anak masuk dalam semacam lingkaran kekerasan: jika ia terbiasa dicela, ia akan mudah memaki orang lain. Tentu saja, kita juga tahu, pelaku kekerasan tidak selalu sebelumnya adalah korban kekerasan. Data kriminologi kadang-kadang menunjukkan fakta mengejutkan tentang para pelaku kekerasan yang berangkat dari keluarga baik-baik dengan tingkat pendidikan cukup tinggi dan kehidupan religius yang kental.

Namun, Nolte berjasa untuk menunjukkan kepada kita bahwa anak belajar dari kehidupan nyata yang paling dekat dengan mereka. Mereka melihat, mendengar, dan memahami apa yang diberikan lingkungannya kepadanya. Mereka hidup dengan membangun perspektif berkat rangsangan dan pengalaman dari sekitarnya. Proses mimesis (yaitu: meniru) ini dapat dengan mudah kita lihat baik dalam dunia manusia maupun hewan dan menjadi pelajaran pertama bagi sang anak. Dan, persis pada aspek inilah, peran parenting orang tua bekerja dan menyentuh berbagai dimensi perkembangan anak yang tidak selalu dapat dijangkau oleh sekolah. Tugas parenting menjadi mutlak justru karena orang tua tetap sampai kapan pun juga adalah pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya.

Tetapi, anak-anak juga masih memiliki pilihan untuk memberikan tanggapan yang berbeda atas rangsangan dan berbagai penga-laman yang mereka terima. Seperti Nike, yang menolak permintaan gurunya agar ia memberikan contekan kepada teman-temannya pada saat ujian nasional. Ia menolak otoritas itu bukan karena ia tidak menghormatinya, melainkan karena pendidikan kritis memam-pukannya untuk berpikir mandiri dan keluar dari lingkaran kekerasan yang masih menguasai sekolah dasarnya. Hidup dengan integritas mengandaikan formasi intelektual dan spiritual yang kokoh. Formasi intelektual memang dilahirkan oleh sekolah, namun formasi spiritual tumbuh karena sosialisasi nilai dan praktik dalam keluarga. Demikianlah, anak sesungguhnya belajar dari apa yang sehari-hari mereka hadapi dan hidupi.