Jangan Biarkan Berlalu

Oleh: Hanna Yulianik S.Th.

“There is no greater harm than that of time wasted” (Tidak ada bahaya yang lebih besar daripada waktu yang tersia-siakan) - Michaelangelo

Pada suatu hari, seorang ayah sedang berdiri di taman menemani anaknya yang sedang gembira bermain ayunan. Agaknya waktu serasa cepat berlalu. Sambil sesekali melirik pada jam di tangannya, si ayah tahu saatnya bermain telah selesai karena masih ada pekerjaan yang menunggu untuk segera diselesaikan.

“Sebentar Ayah, lima menit lagi yaaaah, pliiiisss," suara kecil itu terdengar memelas. Ayahnya dengan spontan menjawab, "Oke, lima menit lagi!". Si kecil berlari ke ayunannya dan kembali bermain dengan gembira sedangkan si ayah mengamati dari kejauhan dengan senyuman senang.

Lima menit berlalu dengan cepat. Saat si ayah mengingatkan kepada puteranya. "Pliiiissss, lima menit lagi, Yah. Lima menit terakhiiir deh. Janji, setelah ini udahan. Oke, Yah?", suara memohon disertai tatapan mata yang penuh harap membuat si ayah tidak tega dan kembali mengabulkan permintaan si kecil.

Seorang ibu yang dari tadi mengamati kejadian itu di sebelahnya berkomentar, "Wah... Bapak hebat sekali, sabar dengan anak-anak ya, Pak?" Dengan tersenyum, si ayah berkata, "Iya Bu, belajar sabar. Saya pernah kehilangan anak saya yang sulung karena terjatuh saat naik sepeda. Sampai sekarang, masih terasa kekecewaan dan penyesalan di dalam hati ini. Saat mereka ada, saya terlalu sibuk dan tidak berusaha lebih keras menyisihkan waktu untuk keluarga hingga kemudian harus kehilangan salah satunya. Saat sibuk dengan pekerjaan, saya berpikir, toh yang saya lakukan untuk membahagiakan mereka, untuk memenuhi kebutuhan mereka juga. Dan, saya salah. Uang yang saya kumpulkan seberapa banyak pun, ternyata tidak pernah bisa membeli kebahagiaan itu", ujarnya dengan nada duka.

“Sejak saat itu, saya berjanji dalam hati untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dan saat si kecil merengek minta 'lima menit', sesungguhnya, bukan dia yang meminta waktu kepada saya, tetapi dia justru sedang memberi tambahan waktu kepada saya untuk menikmati kegembiraan bersamanya," papar si ayah sambil melontarkan pandangan sayang kepada putranya yang sedang asyik bermain.

Kisah di atas memberi pesan kepada kita bahwa kita sering lupa mensyukuri dan menghargai apa (termasuk waktu) yang telah kita punyai. Memang, di zaman yang serba sulit sekarang ini, hampir semua orang tua dituntut untuk serius bekerja keras. Namun, kita tak boleh mengabaikan bahwa kebutuhan anak-anak untuk me-miliki waktu bersama dengan orang tua adalah hal yang tak kalah serius. Dan ternyata, Tuhan Allah juga sangat serius mengingatkan kita untuk tidak main-main terhadap waktu atau kesempatan yang diberikan-Nya kepada kita.

Oleh sebab itu, melalui Pengkhotbah, Tuhan Allah berfirman, “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam; ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun; ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari; ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk; ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang; ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara; ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai” (Pengkhotbah 3:1—8). Melalui ayat-ayat ini, kita diperhadapkan pada fakta bahwa kita hidup dalam keterbatasan waktu. Dan dalam keterbatasan waktu ini, Tuhan ALLAH menghendaki agar kita dapat mempertanggung-jawabkannya dengan benar. Lalu, sehubungan dengan peran kita sebagai orangtua, bagaimanakah Pengkhotbah 3 ini memberikan tuntunannya pada kita untuk bertindak dengan tepat? Mari kita simak bersama.

Pertama, kita harus memahami bahwa tujuan penulis Kitab Pengkhotbah dalam memaparkan semuanya itu bukanlah supaya kita menjadi orang yang pesimis dan membiarkan hidup berlalu begitu saja. Memang, waktu akan terus berjalan, berlalu silih berganti dengan cepatnya, dan kemudian akan terhenti suatu saat. Meski begitu, kita tidak boleh menjadikannya sebagai alasan untuk berdiam diri, tanpa memberi arti bagi hidup ini. Sebaliknya, kita harus memakai waktu yang ada itu sebaik dan semaksimal mungkin. Misalnya, terkait dengan peran kita sebagai orang tua, apakah kita dengan sungguh-sungguh meng-gunakan waktu yang terbatas ini untuk memikirkan, menggumulkan, dan mempraktikkan keteladanan serta pengajaran tentang nilai-nilai kristiani yang akan membentuk karakter anak-anak kita sesuai dengan yang dikehendaki Allah Bapa kita?

Kedua, Allah mempunyai rencana indah di dalam setiap waktu yang diberikan-Nya kepada kita. Dengan menyadari kebenaran ini, hal terbaik yang dapat kita lakukan di hidup ini adalah menggenapkan rencana Allah itu dalam waktu yang ada. Ketika Allah mempertemukan kita dengan waktu untuk menanam, kita harus menanam. Ketika Allah mempertemukan kita dengan waktu untuk berdiam diri, kita harus berdiam diri. Demikian seterusnya. Pada intinya, ayat ini mengajak dan mengajar kita untuk menjadi orang yang peka mengenali rencana ALLAH di setiap waktu yang dianugerahkan-Nya pada kita. Sehubungan dengan peran kita sebagai orang tua, apakah kita terus berupaya setiap waktu untuk mengenali rencana ALLAH di dalam diri serta hidup anak-anak kita? Upaya ini sangat membutuhkan kerelaan kita untuk menyediakan waktu bersama dengan mereka. Melalui kebersamaan dengan anak-anak, baik secara kualitas maupun kuantitas. Secara kualitas, misalnya mengisi kebersamaan dengan kegiatan yang menumbuhkan kehidupan kerohanian seperti berdoa, family altar, dan sebagainya.

Sedangkan secara kuantitas, misalnya menyediakan durasi waktu yang cukup untuk memberi kesempatan kepada anak-anak mengungkapkan kebutuhan mereka. Itu akan sangat menolong kita mengenali rencana ALLAH di dalam hidup mereka.

Ketiga, melalui ayat-ayat ini, Pengkhotbah menegaskan bahwa kehidupan ini juga dibatasi oleh fase-fase (baca: waktu). Jika fase yang satu berlalu, itu menandakan tidak akan ada kesempatan yang sama yang dapat terulang lagi. Dengan demikian, pesan Pengkhotbah ini juga menjadi tanda ”awas” agar kita tidak main-main atau bersikap sembarangan dalam melakukan peran kita sesuai dengan fase kehidupan yang tersedia di hadapan kita. Allah mengizinkan kita, sebagai orang tua bertemu dengan fase-fase di mana anak-anak kita mengalami tahap pertumbuhan sesuai usia mereka. Apakah kita menyadari untuk berlaku bijak dalam menyikapi fase-fase tumbuh kembang mereka ini? Mari kita memeriksa diri sehubungan dengan hal tersebut. Sebagai langkah awal, mari kita memperhatikan di “waktu/fase/ tahap” manakah anak-anak kita sedang berada saat ini? Mungkin saja, anak-anak kita sedang berada di fase untuk belajar dengan cara mengamati. Atau mungkin, mereka sedang berada di fase belajar berbicara. Sebagai orang tua, kita tidak saja dituntut untuk mengetahui berada di fase seperti apakah anak-anak kita, tetapi lebih dari itu, kita dituntut untuk memenuhi kebutuhan mereka sesuai fase itu secara tepat. Ada fase di mana anak membutuhkan kedekatan yang sangat intens dengan orang tua, ada fase di mana anak ingin melepaskan diri dari orang tua. Coba bandingkan: Ketika anak-anak (usia TK atau SD) kita ajak untuk bepergian, mereka dengan sukarela mengikuti ajakan kita meski mereka sebenarnya ada janji dengan teman-temannya. Tetapi, situasi ini berubah. Ketika mereka menginjak masa remaja (SMP–SMA). Ada banyak remaja yang lebih memilih bersama dengan teman-temannya daripada dengan orang tuanya.

Alangkah indahnya jika kita dapat mengenali fase perkembangan serta kebutuhan yang terkandung dalam fase tersebut serta dapat memenuhi kebutuhan anak-anak kita dengan tepat. Coba bayangkan, apa yang akan terjadi kalau ada orang tua yang mendorong-dorong anaknya yang masih usia SD untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan teman-temannya, supaya orang tua tersebut bisa memiliki waktu lebih banyak lagi untuk bekerja. Bagaimana dampaknya terhadap si anak? Sadar atau tidak, mereka akan memiliki perasaan ditolak, tidak berharga, tidak dikasihi, dan sebagainya. Lalu, katakanlah, beberapa tahun kemudian, orang tua tersebut menyesal karena menyadari bahwa dia seharusnya meluangkan waktu lebih banyak bersama anaknya yang kini sudah menginjak remaja. Kemungkinan apa yang akan terjadi saat orang tuanya ingin menghabiskan waktu bersama anak mereka yang sudah menginjak masa remaja dan telah memiliki kehidupan sosial yang lebih luas bersama teman-teman sebayanya? Kemungkinan besarnya, giliran merekalah yang akan menolak dan mengabaikan orang tuanya melalui sikap acuh tak acuh serta pembe-rontakan. Sungguh, jika itu terjadi, yang ada pastilah hanya penyesalan karena waktu telah berlalu, dan kesempatan emas yang seharusnya ada di setiap fase/waktu yang tersedia tak akan mungkin terulang lagi.

Semoga perkataan bijak Pengkhotbah ini menjadi perenungan kita sehingga kita benar-benar menyadari bahwa waktu kebersamaan kita dengan anak-anak kita ada batasnya. Anak-anak kita hanya tumbuh sekali, mereka tidak akan mengulang proses pertumbuhannya. Jadi, jangan sia-siakan waktu bersama mereka. Kasihi mereka dan nikmatilah kebersamaan dengan mereka, baik secara kuantitas maupun kualitas. Lakukan sekarang, dan jangan biarkan berlalu! Amin!