Namanya Saja Anak-Anak

Oleh : Pdt. Rachmat Z. Mustika, M.Div.

“Eli telah sangat tua. Apabila didengarnya segala sesuatu yang dilakukan anak-anaknya.... berkatalah ia kepada mereka: 'Mengapa kamu melakukan hal-hal yang begitu…?”  1 Samuel 2 : 22-23

“Apakah kamu ingat ayahmu?”, tanya sang hakim dengan tegas, “Ayah yang telah kamu permalukan itu?”.

“Saya ingat sekali”, sang tawanan menjawab. “Ketika saya datang kepadanya untuk minta nasihat atau ditemani, ia akan menengadah dari bukunya tentang hukum kepercayaan, dan mengatakan, 'Pergilah 'Nak, Ayah sibuk'. Ayah saya selesai membaca buku itu, dan beginilah saya jadinya”.

Tragedi yang tergambar dalam dialog singkat di atas bukan hanya terjadi dalam ilustrasi saja, tetapi juga dalam kisah nyata, seperti yang ditulis dalam buku Kisah-kisah Rohani Pembangkit Semangat untuk Ayah berikut ini.

Ayah Albert, seorang arsitek paling sibuk di Mannheim, menganggap arsitektur hanya sebagai sarana untuk tujuan keuangan. “Bagi saya, tidak ada bedanya apa yang saya perbuat”, katanya. ”Kepentingan utama saya adalah mencari nafkah”. Uangnya memberi Albert segala keistimewaan yang mungkin dibayangkan seorang anak: sebuah apartemen berkamar empat belas, pembantu-pembantu, sopir, pengasuh. Tetapi, Albert tidak mendapatkan kasih sayang maupun pengertian dari orang tuanya.

Albert kecil merasa kesepian di dalam keluarga beranak lima. Ketika ia bersekolah di sekolah umum di Heidelberg, dua orang teman barunya mendorongnya untuk berbuat nakal. Albert bangga tiap kali namanya tercatat karena ulahnya, dan dengan konsisten ia catat setiap kejadian dalam kalender sakunya.

Di usia 18 tahun, walaupun brilian dan mencintai matematika, Albert memutuskan untuk mengikuti nasihat ayahnya dan belajar arsitektur, dengan harapan mendapatkan kasih ayahnya dengan cara ini. Sepuluh tahun kemudian, studinya memberinya imbalan yang luar biasa ketika ia meraih kasih sayang yang tak terbatas dari seseorang yang menjadi ayah “pengganti” baginya: sang pemimpin sekaligus perdana menteri Kerajaan Jerman.

Bukan hanya dalam bidang arsitektur Albert Speer dihargai oleh Hitler. Ia menjadi Menteri Persenjataan serta Produksi Perangnya Hitler, suatu jabatan dengan hanya satu sasaran di benaknya: mendapatkan “tempat” dalam buku sejarah.

Tidak peduli siapa pun kita, kalau kita melakukan pengabaian terhadap anak-anak kita, tragedi keluarga Albert Speer itu akan terjadi juga dalam keluarga kita.

Alkitab mencatat tragedi serupa. Eli adalah orang tua dengan banyak kelebihan: pemimpin keagamaan, sekaligus pemimpin masyarakat zaman itu. Dia seorang imam, dan juga hakim. Sebagai Imam, Imam Eli adalah penasihat spiritual bangsa Israel. Dan sebagai seorang hakim, Imam Eli bertanggung jawab mengadili berbagai persoalan yang dibawa masyarakat kepadanya. Imam Eli adalah sosok yang terhormat, cerdas, dan bijak sehingga ia mampu mengadili dengan arif. Tetapi, mengapa kedua anaknya, Hofni dan Pinehas, menjadi anak-anak yang nakal, bahkan menjadi pendosa besar (1 Samuel 2:17)?

Semua itu adalah akibat dari pengabaian. Imam Eli mengabaikan mereka dengan tidak menegur keduanya dengan tegas; bahkan, dia tidak memarahi mereka. Semua merupakan akibat dari pengabaian kebutuhan Hofni dan Pinehas pada tahap perkembangan kejiwaan sebelumnya. Imam Eli mengabaikan kenyataan bahwa seorang anak perlu dididik untuk memiliki sikap hormat kepada otoritas. Akibatnya, Hofni dan Pinehas menjadi orang yang tidak menghormati otoritas.

Banyak orang tua melakukan kesalahan yang sama: melakukan pengabaian terhadap kebutuhan anak. Sebagai orang tua, kita tergoda untuk merasa sudah menjadi orang tua yang baik manakala kita sudah memenuhi kebutuhan primer, sekunder, apalagi tersier. Orang tua yang menjadi marah ketika anak mengatakan bahwa mereka merasa tidak disayangi padahal orang tua telah bekerja keras untuk mencukupi sandang, pangan, papan, plus uang saku anak-anak mereka adalah orang tua yang melakukan pengabaian terhadap kebutuhan jiwa anak akan hubungan (relationship) dan kedekatan (intimacy). Orang tua yang memarahi (bahkan kadang sambil mencubiti) anaknya yang masih tetap menangis ketika diantar ke sekolah meski sudah memasuki hari kelima, juga adalah orang tua yang melakukan pengabaian terhadap jiwa anak yang membutuhkan “modal” untuk memasuki dunia baru. Tangisan dan kerewelan mereka sering ditanggapi dengan ringan, “Namanya saja anak-anak”.

Mungkin, kita kurang menyadari bahwa seloroh “Namanya saja anak-anak” itu dapat membuat kita melakukan pengabaian. Kadang, orang tua kurang mau peduli bahwa anaknya sedang merasa tidak aman (insecure). Padahal, mungkin, yang dibutuhkan anak hanyalah pelukan dan kata-kata penguatan, “Tenang, 'Nak. Tempat ini aman”. Sering, hal yang dipedulikan oleh orang tua adalah bahwa anak yang masih menangis itu adalah cengeng dan mempermalukan orang tua. Anak yang baru berusia 4 tahun itu dituntut untuk menopang harga diri orang tuanya yang sudah berusia 40 tahun.

Kehidupan ini terbagi menjadi beberapa tahap perkembangan. Orang tua perlu menyadari bahwa setiap tahap perkembangan memiliki kebutuhannya sendiri. Seorang anak berusia lima tahun memiliki kebutuhan yang berbeda dari anak yang berusia lima belas tahun, sehingga perlakuan yang diberikan kepada anak SD dengan SMA pastilah berbeda. Orang tua akan memberikan uang saku kepada anaknya yang berusia lima belas tahun, tetapi tidak kepada anaknya yang baru berusia lima tahun.

Tindakan orang tua kepada anak berdasarkan fase perkembangan anak ini diibaratkan Carl Rogers, seorang CEO Youth Ministry, sebagai tindakan seorang manajer terhadap mereka yang dipimpinnya. Maka, dengan mengacu pada empat gaya dasar manajemen Ken Blanchard, Roger menjelaskan tentang tanggung jawab orang tua dalam mendidik anaknya. Seorang manajer yang baik akan berusaha menyesuaikan diri dengan situasi yang ada. Misalnya, tindakan yang diambil seorang manajer kepada anak buahnya yang baru, akan berbeda dengan tindakannya kepada anak buahnya yang lama. Sebab kebutuhan pegawai baru dengan yang lama berbeda. Seorang pegawai baru umumnya memiliki tingkat komitmen yang tinggi, mereka ingin melakukan tanggung jawabnya sebaik mungkin. Tetapi tingkat kompetensi mereka masih rendah. Mereka masih perlu banyak belajar tentang pekerjaan baru itu. Mereka membutuhkan aturan, kendali, dan pengawasan. Kebutuhan itulah yang harus dipenuhi si manajer. Demikian pula halnya dengan gaya pendidikan anak. Bagaikan pegawai baru, anak usia 0–11 tahun memiliki gairah hidup. Namun kemampuan mereka masih minim. Karena itu, mereka butuh aturan dan kendali. Orang tua tidak dapat memberikan kebebasan penuh kepada anak usia ini untuk memilih apa yang diinginkannya. Contohnya, ketika jam belajar tiba, sedangkan si anak yang berusia enam tahun masih bermain, orang tua tidak dapat menanyakan apakah si anak memilih belajar atau bermain. Ini bukan masalah demokratis atau otoriter, melainkan anak usia 0–11 tahun memang masih sangat membutuhkan aturan dan kendali.

Pendekatan yang berbeda harus dilakukan apabila kita mendidik anak yang berusia dua belas sampai dengan tujuh belas tahun. Sama seperti seorang pegawai, semakin berkembang kompetensinya, maka semakin sedikit kendali yang harus diterapkan, demikian pula dengan anak pada fase ini. Di masa remaja ini anak membutuhkan arahan dan dukungan. Mungkin mereka tampak tumbuh menjadi anak pemberontak, dan orang tua tergoda untuk mengencangkan kembali kendalinya atas si anak. Tetapi, pada dasarnya, secara alami si anak memang berkembang untuk menjadi manusia dewasa yang mandiri. Di sini, orang tua dipanggil untuk memberikan kesempatan bagi mereka agar dapat belajar memikul tanggung jawab, sambil menjadi sahabat yang memberikan dukungan dan arahan bagi mereka dalam mengemban tanggung jawab tersebut.

Tidak sedikit orang tua yang berambisi dan berlomba untuk menjadi manajer yang baik di tempat kerja tetapi enggan menjadi manajer yang baik bagi keluarga, terutama anak-anaknya. Semoga Saudara dan saya tidak termasuk di dalamnya. Mari belajar menjadi manajer yang baik bagi anak-anak kita dengan mengenali dan memenuhi kebutuhan mereka berdasarkan tahapan perkembangannya.