Pendidikan Karakter ? Itu Harus !

Oleh : Pdt. Wahju Widajat, M.Min. adalah Pendeta GKJW Jemaat Tulang Bawang, Malang.

Pengantar

Akhir-akhir ini, kenakalan remaja makin meningkat, tawuran antarpelajar amat sering terjadi, pelajar pengguna sekaligus pengedar narkoba ada di mana-mana, banyak kasus kriminal melibatkan anak dan remaja. Prihatin melihat fakta menyedihkan itu, Seto Mulyadi (psikolog anak) menyatakan bahwa pendidikan karakter untuk anak adalah hal yang amat penting dan amat mendesak.

Menurut Gordon W. Allport, karakter adalah organisasi dinamis dari sistem-sistem psikofisis dalam diri individu yang turut menentukan cara-caranya yang unik dalam menyikapi lingkungannya. Karakter itu berkaitan dengan struktur antropologis individu dalam menghayati kebebasannya dan mengatasi keterbatasannya. Karenanya, karakter itu subjektif. Karakter itu bukan sekadar hasil dari tindakan, tetapi secara simultan merupakan hasil dari sebuah proses.

Karakter tidak berkembang dengan sendirinya. Ia sangat dipengaruhi oleh factor bawaan (nature) dan faktor lingkungan (nurture). Bagi anak, lingkungan memiliki peran yang sangat penting karena dari sanalah ia belajar dan bersosialisasi. Sosialisasi dan pendidikan anak yang berkaitan dengan nilai-nilai kebajikan dan kebenaran baik dalam keluarga, sekolah, maupun lingkungan yang lebih luas sangat penting dalam pembentukan karakter anak.

Kapan Pendidikan Karakter Harus Dimulai ?

Erickson menyebutkan bahwa anak adalah gambaran awal manusia menjadi manusia, yaitu masa di mana kebajikan berkembang secara pelahan tetapi pasti. Usia dua tahun pertama dalam kehidupan anak adalah masa kritis bagi pembentukan pola penyesuaian personal dan sosial. Itu berarti bahwa bila dasar-dasar kebajikan gagal ditanamkan pada anak di usia dini, ia akan menjadi orang dewasa yang tidak secara memadai memiliki nilai-nilai kebajikan.

Potensi karakter yang baik telah dimiliki manusia sebelum ia dilahirkan. Tetapi, potensi tersebut harus terus-menerus dibina sejak usia dini. Bahkan, proses pembentukan karakter manusia sebenarnya sudah dimulai ketika anak masih di dalam kandungan. Apabila kita menghendaki kehadiran anak sebagai buah kasih orang tua sekaligus anugerah Tuhan, upaya menanamkan kebajikan dan pendidikannya semestinya dimulai sejak mereka dalam kandungan, dan terus dilanjutkan dalam lingkungan keluarga (Amsal 22:6; 29:17).

Keluarga: Tempat Pertama, dan Utama

Bagi seorang anak, keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi pertumbuhan dan perkembangannya, termasuk bagi pertumbuhandan perkembangan karakternya. Menurut resolusi PBB, fungsi utama keluarga adalah “sebagai wahana untuk mendidik, mengasuh, dan mensosialisasikan anak, mengembangkan kemampuan seluruh anggotanya agar dapat menjalankan fungsinya di masyarakat dengan baik, serta memberikan kepuasan dan lingkungan yang sehat guna tercapainya keluarga sejahtera” (Ratna Megawangi, 2003). Apabila keluarga gagal mengajarkan kemampuan-kemampuan dasar, kejujuran, semangat, keinginan untuk menjadi yang terbaik, sulit sekali bagi institusi-institusi lain untuk memperbaiki kegagalan itu.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa keberhasilan keluarga membangun karakter anak-anak akan bermuara pada masyarakat yang warganya memiliki karakter yang baik, dan kegagalan keluarga dalam membentuk karakter anak akan berakibat pada tumbuhnya masyarakat yang tidak berkarakter. Karena itu, tiap keluarga harus memiliki kesadaran bahwa karakter bangsa sangat bergantung pada pendidikan karakter anak di rumah.

Ada empat hal penting yang harus dipenuhi dalam pembentukan karakter anak di dalam keluarga.

  1. Maternal bonding (kelekatan psikologis dengan ibu). Ini adalah dasar penting pembentukan karakter anak karena aspek ini berperan besar dalam pembentukan dasar kepercayaan (trust) anak kepada orang lain. Kelekatan ini membuat anak merasa diperhatikan, menumbuhkan rasa aman, sehingga menumbuhkan rasa percaya. Menurut Erickson, dasar kepercayaan yang ditumbuhkan melalui hubungan ibu-anak pada tahun-tahun pertama kehidupan anak menjadi bekal penting bagi keberhasilan anak dalam kehidupan sosialnya ketika ia dewasa. Demikianlah, ikatan emosional ibu-anak yang erat di usia awal dapat membentuk kepribadian yang baik pada anak.
  2. Kebutuhan akan rasa aman, yaitu kebutuhan anak akan lingkungan yang stabil dan aman. Kebutuhan ini amat penting bagi pembentukan karakter anak. Fakta menunjukkan bahwa lingkungan yang berubah-ubah mengganggu perkembangan emosi bayi. Pengasuh yang berganti-ganti juga akan berpengaruh negatif pada perkembangan emosi anak.
  3. Kebutuhan akan stimulasi fisik dan mental juga merupakan aspek penting dalam pembentukan karakter anak. Tentu, hal ini membutuhkan perhatian yang besar dari orang tua, dan reaksi timbal balik antara ibu dan anak. Menurut pakar pendidikan anak, perhatian besar seorang ibu terhadap bayinya yang berusia di bawah enam bulan (diukur dari seringnya ibu menatap mata anaknya, mengelus, menggendong, dan berbicara kepada anaknya) akan memengaruhi sikap bayinya sehingga menjadi anak yang gembira, antusias mengeksplorasi lingkungannya, dan menjadikannya anak yang kreatif.
  4. Pola asuh, yakni pola interaksi antara anak dan orang tua yang meliputi pemenuhan kebutuhan fisik (makan, minum, dll.), dan kebutuhan psikologis (rasa aman, kasih sayang, dll.), serta sosialisasi normanorma yang berlaku di masyarakat agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungannya. Pola asuh meliputi pola interaksi orang tua dengan anak dalam rangka pendidikan karakter anak. Orang tua yang terbiasa berbicara sopan, bersikap santun, memberi pujian, menegur dengan lembut, akan menjadi model yang baik bagi anak-anaknya. Demikian pula sebaliknya.

Keberhasilan keluarga dalam membangun karakter pada anak juga sangat bergantung pada pola asuh yang diterapkan orang tua. Secara umum, E.B. Hurlock (Child Development, 1981) mengkategorikan pola asuh menjadi tiga jenis.

  1. Pola asuh otoriter: orang tua membuat semua keputusan, anak harus tunduk, patuh, tidak boleh bertanya. Kekuasaan orang tua dominan, anak tidak dihargai sebagai pribadi, kontrol terhadap tingkah laku anak sangat ketat, orang tua menghukum anak jika anak tidak patuh.
  2. Pola asuh demokratis: orang tua mendorong anak membicarakan keinginannya, ada kerja sama orang tua/anak, anak diakui sebagai pribadi, ada bimbingan dan pengarahan dari orang tua, ada kontrol dari orang tua tetapi tidak kaku.
  3. Pola asuh permisif: orang tua memberi kebebasan penuh pada anak untuk berbuat, dominasi ada pada anak, sikap longgar dari orang tua, tidak ada bimbingan dan pengarahan dari orang tua, control dan perhatian orang tua sangat kurang.

Pola asuh yang diterapkan oleh orang tua menentukan keberhasilan pendidikan karakter dalam keluarga. Tiap pola asuh memberi dampak berbeda-beda dalam pembentukan karakter anak. Pola asuh otoriter (yang menuntut anak untuk patuh terhadap segala keputusan orang tua), dan pola asuh permisif (yang memberi kebebasan penuh pada anak) memberi dampak sangat berbeda dengan pola asuh demokratis (yang mendorong anak untuk terbuka, namun bertanggung jawab, dan mandiri) terhadap hasil pendidikan karakter.

Megawangi menyebutkan beberapa kesalahan orang tua dalam mendidik anak yang dapat memengaruhi perkembangan kecerdasan emosi anak dan memengaruhi pembentukan karakternya, yaitu

  1. kurang menunjukkan ekspresi kasih sayang baik secara verbal maupun fisik,
  2. kurang meluangkan waktu yang cukup untuk anaknya,
  3. bersikap kasar secara verbal, misalnya menyindir dan berkata-kata kasar,
  4. bersikap kasar secara fisik, misalnya memukul, mencubit, dan memberikan hukuman badan lainnya,
  5. memaksa anak untuk menguasai kemampuan kognitif secara dini,
  6. tidak menanamkan karakter yang baik kepada anak.

Salah asuh seperti itu berpotensi menumbuhkan anak-anak dengan kepribadian bermasalah, atau mempunyai kecerdasan emosi yang rendah.

  1. Anak menjadi acuh tak acuh, merasa tidak butuh orang lain, sulit menerima persahabatan. Karena sejak kecil mengalami kemarahan, rasa tidak percaya, dan gangguan emosi negatif lainnya, ketika dewasa ia menolak dukungan, simpati, cinta, dan respons positif lainnya dari orang di sekitarnya. Ia mungkin tampak mandiri, tetapi tidak hangat, dan tidak disenangi oleh orang lain.
  2. Secara emosional tidak responsif. Anak yang ditolak akan tidak mampu memberikan cinta kepada orang lain.
  3. Berperilaku agresif, ingin menyakiti orang lain, baik secara verbal maupun fisik.
  4. Menjadi rendah diri, merasa tidak berharga, tidak berguna.
  5. Berpandangan negatif tentang lingkungan: merasa tidak aman, khawatir, curiga terhadap orang lain, dan merasa orang lain mengkritiknya.
  6. Ketidakstabilan emosi: tidak toleran atau tidak tahan terhadap stres, mudah tersinggung, mudah marah, dan sifat-sifat lain yang sulit diprediksikan.
  7. Ketidakseimbangan antara perkembangan emosional dan intelektual. Dampak negatifnya dapat berupa mogok belajar, dan bahkan dapat memicu kenakalan remaja, tawuran, dan lainnya.
  8. Anak tidak dekat dengan orang tua, tidak menjadikan orang tua sebagai role model, lebih memercayai peer group-nya, sehingga mudah terpengaruh oleh pergaulan negatif.

Sekolah Juga Harus Berperan

Selain di dalam keluarga, pendidikan karakter anak diperoleh di sekolah. Walaupun dasar pendidikan karakter adalah keluarga, pendidikan karakter di sekolah sangat diperlukan. Adalah fakta bahwa kurikulum pendidikan di Indonesia belum secara memadai menyentuh aspek karakter. Padahal jika Indonesia ingin bangkit dari keterpurukan. Indonesia harus memperbaiki mutu SDM-nya. Dan jika itu yang diinginkan, Indonesia harus merombak dengan sistem praktik pendidikan yang ada menjadi pendidikan yang memberi porsi memadai bagi pendidikan karakter.

Pendidikan karakter membangun dan mengembangkan kecerdasan emosi dan bahkan kecerdasan spiritual anak yang merupakan bekal amat penting bagi anak dalam menyongsong masa depan, karena dengannya seorang anak akan lebih mampu menghadapi segala macam tantangan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.

Pendidikan karakter di sekolah harus melibatkan tiga aspek: pengetahuan (cognition), perasaan (feeling), dan tindakan ( action) , dan di laksanakan secara berkelanjutan. Tanpa ketiga aspek itu, dan jika tidak dilaksanakan secara berkelanjutan, pendidikan karakter tidak akan efektif, demikian Thomas Lickona. Pendidikan karakter di sekolah dapat dikembangkan melalui pelbagai kegiatan, antara lain manajemen kelas, penegakan disiplin, pendampingan/perwalian, pendidikan jasmani, pendidikan estetika, dan pengembangan kurikulum secara integral.

Dalam pendidikan karakter, lembaga pendidikan membutuhkan sinergi dengan lembaga-lembaga lain yang relevan, terutama orang tua. Kalau seorang anak mendapatkan pendidikan karakter yang baik dari keluarganya, anak tersebut selanjutnya akan memiliki karakter yang baik. Namun sayang, tidak sedikit orang tua yang lebih mementingkan aspek kecerdasan intelektual dibandingkan karakter. Tidak sedikit orang tua yang kurang berhasil dalam mendidik karakter anak-anaknya, entah karena kesibukan, atau karena lebih mementingkan aspek kognitif anak.

Di sinilah, yakni di samping dan dalam sinergi dengan keluarga, sekolah harus berperan dalam membantu membangun karakter anak-anak.