Mengapa Pendidikan Karakter

“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang daripada jalan itu.” Amsal 22:6

“Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu, dan dalam kesucianmu.” 1 Timotius 4:12

“Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.” Mazmur 119:9

Oleh : Pdt. Irwan Hidayat, S.Th., M.Pd. adalah pendeta GKI Darmo Permai, Surabaya

Karakter adalah sifat, watak, tabiat yang telah mengakar (internalized) di dalam diri seseorang, dan karenanya mewarnai seluruh kehidupan orang itu, baik dalam perkataan, pemikiran, sikap, dan tingkah lakunya. Pada masa kini, pendidikan karakter merupakan hal yang amat mendesak, sesuatu yang tidak dapat ditunda lagi. Mengapa?

Pertama, fakta bahwa menemukan seseorang yang memiliki karakter yang baik pada zaman sekarang adalah hal yang amat sulit.

Kedua, kuatnya pengaruh-pengaruh negatif yang ada di sekitar kita, yang sangat mungkin akan dapat mendorong atau menyeret kita untuk mengadopsi nilai-nilai dari karakter yang buruk (bad character). Ketiga, adanya korelasi yang sangat kuat antara karakter yang dimiliki seseorang, dan tingkat keberhasilan orang tersebut di dalam hidupnya. Karena hal-hal inilah, pendidikan karakter merupakan hal yang amat mendesak untuk dilakukan, bukan karena latah menyikapi fenomena dunia pendidikan yang saat ini tengah mengedepankan masalah pembentukan karakter, melainkan semata-mata karena adanya alasan-alasan yang sangat kuat dan mendasar untuk kita melakukannya dengan bersungguh-sungguh.

Pendidikan karakter di sekolah ditujukan khususnya kepada para siswa. Pola pendidikan karakter di sekolah dilakukan tidak hanya dengan cara menyampaikan pengetahuan tentang apa saja nilai dari karakter yang baik, tetapi juga mencoba untuk mengintegrasikan nilai-nilai dari karakter yang baik itu ke dalam setiap pengalaman belajar para siswa. Tujuan akhirnya adalah para siswa dapat mengadopsi nilai dari karakter yang baik itu bagi diri mereka sendiri.

Perlu disadari sejak awal bahwa pendidikan karakter adalah suatu proses. Artinya, hal itu tidak bisa dilakukan dan dilihat hasilnya secara instan. Kitab Amsal menegaskan sebuah perintah bagi kita untuk “mendidik” (train, KJV) orang-orang muda. Dari istilah yang dipakai dalam perintah itu, kita menangkap adanya suatu proses panjang yang terjadi secara kontinu, terarah, dan terstruktur untuk mencapai tujuan. Memang, fokus pendidikan karakter di sekolah adalah para siswa. Namun, peran dan keterlibatan orang-orang dewasa di sekitar para siswa (guru, pustakawan, petugas administrasi, dan tentu saja orang tua) sangat penting, khususnya dalam hal mengajarkan dan menanamkan nilai dari karakter yang baik secara intensif lewat keteladanan hidup. Dalam hal ini, Kitab Amsal mengatakan satu hal yang harus kita yakini: apabila kita tidak melalaikan kesempatan atau momentum untuk mendidik/melatih generasi muda kita saat ini untuk memiliki karakter yang baik, kita akan menuai hasil yang baik pada masa yang akan datang. “... maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari jalan itu ”.

Pendidikan karakter sejak masa muda, seberapa pentingkah hal itu? Jawabnya: amat sangat penting! Pemazmur, dalam bagian Alkitab di atas, mengangkat tema mengenai “seorang muda yang mempertahankan kelakukannya agar tetap bersih”. Mari, kita menelaah lebih dalam pernyataan pemazmur ini.

  1. Pertama, mengenai “orang muda”. Dalam istilah “orang muda” atau “masa muda” terkandung pengertian tentang adanya kesempatan (periode waktu) emas untuk mengajar dan menanamkan suatu prinsip yang baik.
  2. Kedua, istilah “mempertahankan”. Pada masa yang mana pun, memiliki karakter hidup yang kudus/suci (pure) secara terus-menerus adalah hal yang tidak mudah. Hal yang mungkin bisa dilakukan dengan lebih mudah adalah menjadi kudus/suci dalam situasi atau saat tertentu saja. Tetapi, terus menerus (bertahan) dalam karakter hidup yang murni bukanlah perkara yang sederhana untuk dipraktikkan.
  3. Ketiga, tentang kelakuan (baca: perkataan, sikap, pemikiran, tindakan) yang bersih. Siapakah orang yang pada zaman yang bobrok seperti sekarang ini, yakni zaman di mana banyak orang hidup dalam cara-cara yang kotor dapat mempertahankan kelakuannya tetap bersih? Orang seperti ini sungguh sangat langka.

Ketika kita membaca bagian Mazmur ini, kita mendapatkan sebuah motivasi dan dorongan (drive) yang sangat kuat untuk dengan serius melaksanakan pendidikan karakter bagi orang-orang muda. Sekaranglah momentumnya, saat mereka masih muda! Sadarilah tantangan yang mereka sedang dan akan hadapi di depan: bertahan dalam kelakuan hidup yang bersih di tengah-tengah pola hidup yang bobrok.

Maka, sebagai orang tua dan pendidik, panggilan kita adalah memperlengkapi mereka dengan apa yang mereka butuhkan untuk tetap berdiri kokoh sebagai pribadi yang berkarakter di tengah-tengah tantangan kehidupan. Sehingga, mereka pun pada akhirnya juga dapat menyatakan keteladanan hidup yang baik bagi lingkungan di mana mereka berada.